Kamis, 11 Februari 2010

Proposal PTK

PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA
REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA TENTANG PECAHAN BAGI SISWA KELAS VI SD
SENDANGWUNGU 2
BANJAREJO PADA SEMESTER II TAHUN 2008/2009
Diajukan pada Penilaian Angka Kredit Unsur Pengembangan Profesi Guru
untuk Kenaikan Pangkat Golongan IVa ke IVb
Oleh
Sukanto
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BLORA
SEKOLAH DASAR SENDANGWUNGU 2, BANJAREJO
Jl. Blora-Banjarejo Km.4 Sendangwungu, Banjarejo, Blora, Jawa Tengah
2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada semester I tahun pembelajaran 2008/2009 daya serap siswa
kelas VI SD Sendangwungu 2 untuk Mata Pelajaran Matematika sangat
rendah. Nilai hasil ulangan umum tengah semester I Mata Pelajaran
Matematika sangat rendah. Dari 25 siswa kelas VI yang mendapat nilai 0 – 25
sebanyak 10 siswa, nilai 26 – 50 sebanyak 11 siswa, dan yang mendapat nilai
lebih dari 50 hanya 4 siswa.
Berdasarkan pengamatan sehari-hari selama ini guru dalam
menyampaikan materi pelajaran matematika masih mengejar target materi,
sehingga kurang dalam penanaman konsep dasar matematika. Penyampaian
materi masih bersifat abstrak , tidak dimulai dari hal-hal yang realistik sesuai
dengan taraf pemahaman siswa. Metode ceramah masih mendominasi
penyampaian materi dan masih sangat kurang dalam penggunaan media
pembelajaran.
Peningkatan hasil belajar siswa harus selalu diusahakan
secarabersama oleh semua guru dari kelas I sampai kelas VI. Dalam
keseluruhan proses belajar di sekolah , kegiatan belajar siswa merupakan
yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil dan tidaknya pencapaian tujuan
pembelajaran sangat bergantung kepada bagaimana proses belajar yang
dialami siswa sebagai pengalaman belajarnya.
Untuk itu diharapkan dalam menyampaikan materi pembelajaran
guru harus benar-benar memahami kondisi dan taraf pemahaman siswa,
penggunaan media pembelajaran yang sesuai untuk menanamkan konsep
dasar matematika, penggunaan metode yang sesuai, dan selalu dikaitkan
dengan kehidupan sehari-hari .
Yang terjadi selama ini siswa sangat kurang dalam memahami dan
menyelesaikan soal cerita. Siswa selalu kesulitan menyelesaikan soal cerita
yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Padahal tujuan mempelajari
matematika adalah agar bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari.
Berdasar hal tersebut di atas perlu dicari upaya untuk meningkatkan
hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran matematika. Untuk itu perlu
dicoba model pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan
pembelajaran matematika realistik, karena selama ini belum pernah
diterapkan. Diharapkan penggunaan model pembelajaran matematika relistik
dapat meningkatkan pemahaman konsep dasar matematika bagi siswa , dapat
meningkatkan hasil belajar matematika siswa, dan siswa dapat menggunakan
matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut dapat diidentifikasi masalah yaitu :
1. Nilai Matematika siswa sangat rendah.
2. Siswa kurang paham konsep dasar matematika, atau dalam pembelajaran
Matematika tidak dimulai dari pengenalan konsep dasarnya.
3. Kurang tepatnya guru dalam memilih metode pembelajaran yang sesuai
dengan materi, dan kondisi siswa.
4. Kurang memanfaatkan media pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran.
5. Perlu upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
C. Pembatasan masalah
Pembatasan masalah diperlukan agar penelitian lebih efektif, efisien,
dan terarah. Adapun hal-hal yang membatasi dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian hanya dilakukan terhadap siswa kelas VI SD Sendangwungu 2,
Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora Semester II Tahun Pelajaran
2008/2009 pada materi pecahan, Khususnya menyederhanakan dan
mengurutkan pecahan.
2. Model Pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penggunaan pendekatan pembelajaran matematika realistik.
3. Penelitian ini diharapkan terjadi peningkatan prestasi belajar siswa.
D. Rumusan Masalah
Apakah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika
realistik dapat meningkatkan hasil belajar Matematika tentang pecahan bagi
siswa kelas VI SD Sendangwungu 2, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora
pada Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009 ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar
Matematika di kelas VI, SD Sendangwungu 2 Kecamatan Banjarejo Kabupaten
Blora melalui penggunaan pendekatan pembelajaran matematika realistik.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat :
1. Bermanfaat bagi siswa
Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran
matematika realistik membuat semua siswa aktif, kreatif, langsung
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, meningkatkan motivasi
belajar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Bermanfaat bagi guru
Menjadi masukan bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran
Matematika dengan memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan
materi pelajaran dan kondisi siswa serta selalu mengaitkan matematika
dengan kehidupan sehari-hari.
3. Bermanfaat bagi sekolah
Memberi masukan kepada penyelenggara dan pengelola sekolah dalam
usaha memperbaiki dan meningkatkan mutu lulusan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik
Istilah model pembelajaran amat dekat dengan pengertian strategi
pembelajaran.
Soedjadi (1999:101) dalam Model-model Pembelajaran Matematika
SMP ( Rachmadi Widdiharto ) menyebutkan Strategi pembelajaran adalah
suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah
suatu keadaan pembelajaran kini menjadi keadaan pembelajaran yang
diharapkan.
Ismail (2003) dalam Model-model Pembelajaran Matematika SMP (
Rachmadi Widdiharto ) menyebutkan bahwa model pembelajaran mempunyai
4 ciri khusus, yaitu (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh
penciptanya; (2) tujuan pembelajaran yang hendak dicapai; (3) tingkah laku
mengajar yang diperlukan agar model tersebut berhasil; (4) lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai
2. Pembelajaran Matematika Realistik ( Realistic Mathematics Education )
Pembelajaran Matematika Realistik( RME ) adalah pembelajaran
matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari
(mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam
kehidupan sehari-hari. Karakteristik RME adalah menggunakan konteks
“dunia nyata”, model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif, dan
keterkaitan (intertwinment) ( Zainurie ,2007 ).
Realistic Mathematics Education (RME) merupakan teori belajar
mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME pertama kali
diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut
Freudenthal. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan
bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan
aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan
relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari.
Pembelajaran Matematika Realistik (MR) yang dimaksudkan dalam
hal ini adalah pembelajaran matematika di sekolah yang dilaksanakan dengan
menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal
pembelajaran. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber
munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika
formal. Pembelajaran MR di kelas berorientasi pada karakteristikkarakteristik
RME, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk
menemukan kembali konsep-konsep matematika atau pengetahuan
matematika formal. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan mengaplikasikan
konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau
masalah dalam bidang lain.
3. Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau
potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar )
Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia belajar diartikan
berusaha ( berlatih dsb )supaya mendapat suatu kepandaian ( Purwadarminta :
109 )
Supartinah Pakasi (1981 : 41) dalam buku: “Anak dan
Perkembangannya,” mengatakan pendapatnya antara lain: “1) Belajar
merupakan suatu komunikasi antar anak dan lingkungannya; 2) Belajar
berarti mengalami; 3) Belajar berarti berbuat; 4) Belajar berarti suatu aktivitas
yang bertujuan; 5) Belajar memerlukan motivasi; 6) Belajar memerlukan
kesiapan pada pihak anak; 7) Belajar adalah berpikir dan menggunakan daya
pikir; dan 8) Belajar bersifat integratif.”
Menurut Slameto ( 2003 ) : Belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Belajar dalam penelitian ini diartikan segala usaha yang diberikan
oleh guru agar siswa mendapat dan mampu menguasai apa yang telah
diterimanya dalam hal ini adalah pelajaran Matematika.
4. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Purwanto ( 1989:3), menyatakan bahwa hasil belajar adalah
suatu yang digunakan untuk menilai hasil pelajaran yang telah diberikan
kepada siswa dalam waktu tertentu.
Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni
untuk bermacam-macam aturan terhadap apa yang telah dicapai oleh murid,
misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang
dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes akhir catur wulan dan sebagainya
(Abu Muhammad Ibnu Abdullah: http://spesialistorch.
com/content/view/120/29/ yang direkam pada 24 Jun 2008.).
KONDISI
AWAL
Hasili belajar dalam penilitian ini yang dimaksudkan adalah nilai
yang diperoleh siswa pada mata pelajaran matematika dalam bentuk nilai
berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melaksanakan tugas
yang diberikan padanya
B. Kerangka Berfikir
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang
bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami
kesulitan dalam matematika
Pembelajaran MR memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika
berdasarkan pada masalah realistik yang diberikan oleh guru. Situasi realistik
dalam masalah memungkinkan siswa menggunakan cara-cara informal untuk
menyelesaikan masalah. Cara-cara informal siswa yang merupakan produksi
siswa memegang peranan penting dalam penemuan kembali dan
pengkonstruksian konsep. Hal ini berarti informasi yang diberikan kepada
siswa telah dikaitkan dengan skema (jaringan representasi) anak. Melalui
interaksi kelas keterkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat sehingga
pengertian siswa tentang konsep yang mereka konstruksi sendiri menjadi
kuat. Dengan demikian, pembelajaran MR akan mempunyai kontribusi yang
sangat tinggi dengan pengertian siswa sehingga dapat meningkatkan hasil
belajarnya.
Pada penelitian ini dilakukan tindakan kelas dalam dua siklus.
Langkah awal dilakukan perencanaan merancang skenario pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik,
kemudian dilakukan pelaksanaan tindakan pembelajaran. Sebelum diberi
tugas siswa diberi pretes untuk mengetahui seberapa banyak pengetahuan
siswa tentang pecahan.
Selesai pembelajaran pada siklus I dilakukan analisis dan refleksi
untuk mencari kelebihan dan kekurangan dalam proses pembelajaran. Adanya
kekurangan tersebut digunakan untuk memperbaiki pada pembelajaran
selanjutnya di siklus II. Dengan cara memperbaiki proses pembelajaran pada
tahapan siklus I dan siklus II , diharapkan akan dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa secara signifikan. Dari uraian di atas dapat digambarkan skema
kerangka berfikir seperti pada gambar 1.
Peneliti belum
menerapkan
pembelajaran
matematika
realistik
Prestasi belajar
Matematika
rendah
Menerapkan
pembelajaran
matematika realistik
SIKLUS 1
Menerapkan
pembelajaran
matematika realistik
dengan kelompok besar
Gambar 1.
Skema Kerangka Berfikir
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir seperti yang telah
diuraikan di atas ,maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan kelas sebagai
berikut : Melalui pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik dapat
meningkatkan hasil belajar Matematika tentang pecahan bagi siswa kelas VI
SD Sendangwungu 2 pada semester II tahun pelajaran 2008/2009.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan yaitu Bulan Januari,
Februari, dan Maret 2009. Bulan Januari peneliti mulai mengadakan
persiapan, yaitu menyusun proposal penelitian dan instrumennya serta
pengajuan ijin penelitian kepada Kepala Sekolah. Karena minggu pertama
Bulan Januari masih dalam waktu libur semester I maka pengajuan ijin dan
penyusunan proposal baru bisa dilakukan pada minggu kedua. Bulan
Februari proses pengumpulan data berupa tindakan kelas dilaksanakan .
Pelaksanaan tindakan kelas dilakukan dalam dua siklus, yaitu siklus 1
dilaksanakan pada minggu kedua Bulan Februari 2009 dan siklus 2
dilaksanakan pada minggu keempat Bulan Februari 2009. Analisis data siklus
1 dilaksanakan pada minggu ketiga, dan analisis data hasil siklus 2
TINDAKAN
KONDISI
AKHIR
Diduga melalui pembelajaran
matematika realistik dapat
meningkatkan prestasi belajar
Matematika siswa
SIKLUS 2
Menerapkan
pembelajaran
matematika realistic
dengan kelompok kecil
dilaksanakan pada minggu kelima Bulan Februari 2009. Pembahasan, dan
penyusunan laporan hasil penelitian kami laksanakan pada Bulan Maret
2009.. Untuk lebih jelasnya alokasi waktu penelitian tindakan kelas tersebut
dapat dilihat pada tabel di halaman berikut.
Tabel 1
Alokasi Waktu Penelitian
No Kegiatan
Waktu
Januari Februari Maret
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Pengajuan Proposal
2 Penyusunan Rancangan Penelitian
3 Pelaksanaan Sklus 1
4 Analisis Hasil Siklus 1
5 Pelaksanaan Siklus 2
6 Analisis Hasil Siklus 2
7 Pembahasan dan Penulisan Hasil
Penelitian
Pelaksanaan tindakan kelas dilakukan pada waktu tersebut karena
materi pecahan diajarkan di kelas VI pada awal Semester kedua. Juga agar
dapat memperbaiki dan menemukan solusi pembelajaran matematika yang
efektif bagi siswa kelas VI sebagai persiapan ujian, sehingga diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI SD
Sendangwungu 2 Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora pada tahun
pelajaran 2008/2009 ini.
2. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini kami laksanakan di Kelas VI SD
Sendangwungu 2, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora , yang lokasinya di
Jalan Raya Blora-Banjarejo Km. 4.
Penelitian tindakan kelas dilakukan di kelas VI SD Sendangwungu
2 karena memang siswa di kelas tersebut mempunyai masalah yang harus
segera dipecahkan dan dicari solusinya . Juga karena kebetulan peneliti
mengajar di kelas dan sekolah tersebut.
B. Subyek Penelitian
Subyek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VI SD
Sendangwungu 2, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora yang berjumlah
25 anak yang terdiri dari 12 anak laki-laki dan 13 anak perempuan.
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari sumber data primer
yaitu semua siswa kelas VI yang berjumlah 25 anak sebagai subyek
penelitian, dan sumber data sekunder yaitu guru kelas V Ibu Siti Rofiah ,S.Pd
yang melakukan pengamatan selama proses tindakan kelas berlangsung.
Sumber data dalam penelitian ini berupa data hasil belajar siswa
yaitu data nilai hasil tes formatif siswa, data hasil pengamatan yang dilakukan
guru kelas V, dan data yang berupa foto maupun rekaman yang berhasil
diambil selama proses kegiatan berlangsung
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1.Teknik pengumpulan data
Dalam penelitian ini kami menggunakan teknik pengumpulan data berupa
teknis tes maupun non tes.
2.Alat pengumpulan data
Alat pengumpulan data yang berupa teknis tes kami bagi menjadi dua yaitu
butir soal tes untuk siklus 1 dan butir soal tes untuk siklus 2. sedangkan yang
teknik non tes berupa lembar pengamatan/lembar observasi .
E. Validasi Data
Agar data yang kami peroleh dalam penelitian ini valid, kami
menggunakan dua cara, yaitu data yang berbentuk angka/data kuantitatif yang
berupa nilai formatif siswa , kami siapkan instrumennya. Untuk memenuhi
validitas teoritik khususnya content validity , sebelum menyusun butir-butir
soal tes formatif kami siapkan dahulu kisi-kisi nya. Sedangkan untuk data
kualitatif yang berupa observasi, kami menggudnakan triangulasi sumber ,
yaitu melalui kolaborasi dengan teman sejawat.
F.Analisis Data
Data yang sudah kami peroleh , baik data kuantitatif maupun data
kualitatif dianalisa. Data kuantitatif kami analisa dengan menggunakan
analisis diskriptif komparatif, yaitu dengan cara membandingkan nilai hasil
tes kondisi awal, nilai hasil tes setelah siklus 1, dan nilai hasil tes setelah
siklus 2, kemudian direfleksi. Data kualitatif yang berupa hasil
pengamatan/hasil observasi , kami analisa dengan menggunakan analisis
diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap
siklus.
G. Indikator Kinerja
Pada penelitian tindakan kelas ini penulis mentargetkan rata-rata
nilai ulangan harian/tes formatif meningkat. Biasanya rata-rata nilai ulangan
harian matematika siswa berkisar antara 45 sampai 50. Maka setelah
dilakukan tindakan kelas , penulis mentargetkan rata-rata nilai ulangan harian
matematika siswa menjadi 55.
H. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini kami menentukan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
Tindakan kelas.
2. Banyaknya tindakan dalam penelitian ini 2 siklus.
3. Langkah-langkah kegiatan :
Siklus 1
Pada siklus 1 tindakan yang dilakukan meliputi 4 tahapan, yaitu
planning( perencanaan tindakan ), acting( pelaksanaan tindakan ), observing(
pengamatan ), dan reflecting( refleksi ).
Planing atau perencanaan tindakan, peneliti merencanakan kegiatan
yang akan dilaksanakan meliputi apersepsi , yaitu membuka proses
pembelajaran dengan berdoa, mengabsen siswa, menyampaikan tujuan
pembelajaran kepada siswa, dan membentuk kelompok yang terdiri dari 6
siswa. Dilanjutkan merencanakan kegiatan inti yaitu proses pembelajaran
yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran( RPP ), dengan
pendekatan kontekstual atau pembelajaran matematika realistik, dan
dilanjutkan penutup yaitu merencanakan pelaksanaan tes formatif dan
instrumennya.
Acting ( pelaksanaan tindakan ) , peneliti melaksanakan kegiatan
pembelajaran sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran , dimulai dengan
diajukannya sebuah masalah yang harus dipecahkan oleh siswa secara
kelompok. Setelah guru menjelaskan masalah dilanjutkan siswa secara
berkelompok berdiskusi tentang pemecahan masalah tersebut.. Diharapkan
pada kegiatan ini siswa berani bertanya, usul, dan berdiskusi bersama
kelompoknya secara aktif. Diharapkan ada persaingan antar kelompok untuk
menjadi kelompok yang terbaik.
Tahap selanjutnya adalah observing( pengamatan ). Pada tahap ini
teman sejawat melakukan pengamatan proses pembelajaran.dan pengamatan
hasil belajar siswa. Kegiatan siswa maupun kegiatan guru diamati selama
proses kegiatan pembelajaran. Hasil pengamatan proses pembelajaran berupa
lembar pengamatan dan lembar observasi, sedangkan hasil pengamatan hasil
belajar berupa daftar nilai ulangan siswa.
Tahap terakhir pada siklus satu yaitu reflekting atau refleksi. Hasil
pengamatan selama proses pembelajaran yang berupa lembar pengamatan
yang dilakukan oleh teman sejawat, maupun hasil pengamatan terhadap hasil
belajar yang berupa daftar nilai ulangan siswa direfleksi, dicari kebaikankebaikan
dan kekurangan-kekurangannya untuk dijadikan dasar pelaksanaan
siklus 2 sehingga pada siklus 2 ada perbaikan proses pembelajaran dan bisa
meningkatan hasil belajar siswa.
Siklus 2
Selesai siklus 1 dilanjutkan dengan siklus 2, yaitu melaksanakan
proses penelitian dengan kegiatan siklus 2 yang tahapan-tahapannya sama
dengan siklus 1, yaitu planning( perencanaan tindakan ), acting( pelaksanaan
tindakan ), observing( pengamatan ), dan reflecting( refleksi ).
Planing atau perencanaan tindakan, peneliti merencanakan kegiatan
yang akan dilaksanakan meliputi apersepsi , yaitu membuka proses
pembelajaran dengan berdoa, mengabsen siswa, menyampaikan tujuan
pembelajaran kepada siswa, dan membentuk kelompok yang terdiri dari 4
siswa yang dipimpin oleh salah seorang teman sendiri . Dilanjutkan
merencanakan kegiatan inti yaitu proses pembelajaran yang tertuang dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran( RPP ), dimana teman yang bertindak
sebagai tutor membantu anggota kelompoknya sendiri, dan dilanjutkan
penutup yaitu merencanakan pelaksanaan tes formatif dan instrumennya.
Acting ( pelaksanaan tindakan ) , peneliti melaksanakan kegiatan
pembelajaran sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran , dimulai dengan
penjelasan singkat tentang contoh masalah.. Setelah guru menjelaskan materi
dilanjutkan siswa memecahkan masalah secara berdiskusi dalam
kelompoknya masing-masing. Diharapkan pada kegiatan ini siswa lebih aktif
berperan karena kelompoknya kecil.
Tahap selanjutnya adalah observing( pengamatan ). Pada tahap ini
teman sejawat melakukan pengamatan selama proses pembelajaran.dan
pengamatan hasil belajar siswa. Kegiatan siswa maupun kegiatan guru
diamati selama proses kegiatan pembelajaran. Hasil pengamatan proses
pembelajaran berupa lembar pengamatan dan lembar observasi, sedangkan
hasil pengamatan hasil belajar berupa daftar nilai ulangan siswa.
Tahap terakhir yaitu reflecting yaitu menganalisa kekurangan
kekurangan dan hambatan-hambatan selama proses penelitian, serta hasil
pengamatan dan observasi teman sejawat untuk dijadikan acuan kegiatan
penelitian selanjutnya.
Untuk lebih jelasnya pelaksanaan tindakan kelas dalam dua siklus
pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Planing Planing
Reflecting 1 Acting Reflecting 2 Acting
Observing Observing
Gambar 2
Skema Pelaksanaan Tindakan dalam dua siklus

Rabu, 10 Februari 2010